Skip to main content

Proses Membentuk Hidup


Hari ini kembali aku mulai lg dengan menulis.
Setelah dengan segala kegiatan yg membuat warna-warni kehidupan, sehingga sulit utk membagi waktu berkegiatan. Semua nya menuntut prioritas yg harus didahulukan. Tp hanya satu keputusan yg membuat suatu kegiatan lebih terlaksana daripada kegiatan yg lain.
Tp itulah kehidupan, biar kita belajar utk mendahulukan prioritas, kita tetap di tuntut utk memutuskan secara bijak dan sederhana.

Semalam menjadi pengalaman yg menarik, sehingga membuat aku hari ini semangat utk menulis dan menjalani pagi ini. Salah seorang senior (Bang Anggun) datang ke SC (Student Center) dalam rangka membahas website. Tp entah darimana jalan ceritanya, pembicaraan semalam berlangsung kearah topik "mengembangkan kemampuan menulis".
Cukup menarik pembicaraan semalam, dan menggairahkan semangat utk menulis kembali. Emang selama ini aku sudah memulainya, tp dengan rasa malas yang luar biasa kegiatan itu jarang ku laksanakan.
Bang Anggun menjelaskan bahwa dalam menulis itu ada beberapa hal yg perlu diperhatikan. Teknik menilis dan isi menulis merupakan 2 hal penting yg dijelaskan dalam pembicaraan semalam.
Pembicaraan berlangsung lama dan cukup seru. Arah pembicaraan pun tidak hanya mengenai teknik Menulis, tp jg kearah ilmu filsafat. Dan memang, bang Anggun memiliki latar belakang seorang yg tertarik dengan dunia filsafat. Dan ilmu filsafat yg dipelajarinya didapat dengan belajar secara otodidak.

Banyak hal yg dapat dipelajari dari perbincangan semalam dengan bang anggun. Selain memotifasi utk mulai menulis, ada hal lain yg ikut termotivasi dari perbincangan semalam.
Keinginan untuk terus belajar didalam hidup ini, itulah kesimpulan besar yg bisa kupetik dari obrolan semalam.
Hanya kematian yang membuat kita berhenti belajar didalam hidup ini. Selama kita hidup, aktifitas belajar tidak akan pernah luput dari setiap detik hidup...
Kembangkan dirimu dan biarkan proses membentuk hidupmu.

GBU

Comments

Popular posts from this blog

I Know Who Holds Tomorrow...

Tak ku tahu 'kan hari esok, namun langkahku tegap. Bukan surya kuharapkan,kar'na surya 'kan lenyap. O tiada 'ku gelisah,akan masa menjelang; ku berjalan serta Yesus.Maka hatiku tenang. Refrein: Banyak hal tak kufahami,dalam masa menjelang. Tapi t'rang bagiku ini,Tangan Tuhan yang pegang. Sebuah lirik yg dilantunkan pada upacara pemakaman yg beberapa waktu lalu ku hadiri. Perenungan didalam diri, ketika kematian adalah akhir kehidupan di bumi. Mengingatkan manusia, bahwa banyak hal sebenarnya yg tidak kita ketahui. Namun, kita berusaha utk mencoba mengetahui. Banyak hal yg tidak dapat kita lakukan sendiri. Namun, kita mencoba melakukan nya sendiri. Kita di bayang-bayangi oleh ruang dimensi yg lalu dan yg akan datang. Namun yg nyata adalah sekarang. Dan yg pasti adalah sekarang menjadi "yg lalu". Trus, dimanakah "yg akan datang" dapat kita ketahui dengan pasti. Mencoba mengetahui dengan kapasitas seorang manusia yg hanya mampu menjalani satuan wakt

Why Dog Never Lie About Love...???

Sunggu aneh rangkaian judul yg akan saya tulis kali ini. Mungkin rangkaian kata "Dog never lie about love" hanya bisa dimengerti oleh mereka yang pernah mempunyai anjing. Saya agak sedikit hati-hati didalam memakai kata-kata peliharaan. Bagi banyak orang, anjing bukanlah seekor peliharaan seperti memelihara hewan lainnya. Ada yang menganggapnya sebagai teman atau sahabat. Dan bahkan banyak film yang mengisahkan pertemanan seekor anjing dan pemiliknya, seperti "Air Bud", 101 dalmatians, dan masih banyak lagi. Begitu akrabnya pertemanan anjing dan tuannya, sehingga tidak jarang didalam film tersebut sang tuan tidak rela ketika kehilangan anjing kesayangannya. Dog never lie about love merupakan sebuah judul buku yang dikarang oleh Jeffry Moussaieff Mason. Penulis mencoba mengerti dan menganalisis prilaku anjing. Jeffry Moussaieff Mason berkata, " We love dogs because they love us, unconditionally. No matter how we treat them, what we do to them, how little attent

Mencoba Berfikir dari Pertanyaan dan Pernyataan...

Sebuah rasa yg pernah hinggap di pikiran dan rasa.... Apakah selamanya semua penjara selalu terasa gelap dan hampa? Didalam kegelapan, setiap org yg bisa melihat pun tidak dapat melihat... Apakah harapan didalam kegelapan hanya timbul dari suatu berkas cahaya... Dari mana datangnya berkas cahaya itu ketikan kegelapan sebagai suatu penjara? Apakah waktu akan berbicara utk menyelesaikan semua itu? Seakan waktu adalah sebagai suatu takdir yg tidak ada suatu pilihan didalamnya, sehingga tidak ada harmoni yg dapat kita mainkan didalamnya...